Haul ke 17 Ariyanto, Pengabdi Toleransi dari Mojokerto

IM.com – Haul Riyanto, anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) yang ke-17 digelar PCNU Kota Mojokerto di Kantor sekretariat jalan Suromulang Raya 9 Citra Surodinawan Estate (CSE) Prajurit Kulon Kota Mojokerto, Minggu (31/12/2017).

Perlu diingat, Riyanto adalah Banser yang 17 tahun silam lalu atau 24 Desember 2000 menuju tempat tugas untuk bergabung dengan kepolisian mengamankan kebaktian di gereja Eben Haezer, Jalan Kartini Nomor 4, Kota Mojokerto, Jawa Timur. Namun nahas, pemuda pemuda kelahiran Kediri pada 19 Oktober 1975 itu sekitar pukul 17.00 tewas akibat ledakan bom yang hendak diselamatkan.

Pengorbanan Riyanto juga dikenang Rudi Sanusi Wijaya, pendeta gereja Eben Haezer. Rudi menceritakan pada tempo.com, seusai kebaktian pada 24 Desember 2000 malam, pengurus gereja menemukan dua barang mencurigakan di dua lokasi. “Pertama, bungkusan tas plastik ditemukan di bawah telepon umum di depan gereja dan yang satunya tas berisi kado di dalam gereja di bawah bangku,” ujarnya.

Dua barang mencurigakan itu pun dibuka karena khawatir berisi bom. Tas plastik yang ditemukan di bawah telepon umum itu berisi rangkaian kabel. Salah satu anggota Banser NU, Riyanto, membuka lalu membuangnya di lubang gorong-gorong yang hanya berjarak sekitar 10 meter di depan gereja. Saat dibuang, bom tersebut meledak dan menewaskan Riyanto.

Sedangkan tas yang ditemukan di bawah bangku di dalam gereja sempat dibuka Rudi. “Tidak ada kitab (Injil) dan berisi kotak seperti kado,” katanya. Lantas Rudi menyuruh pengurus gereja meletakkannya di depan gereja. Setelah diletakkan, bom kedua pun meledak.

Menurut Rudi, diduga ada dua pelaku yang menaruh bom di dalam dan di luar gereja. “Salah satu pelaku diduga ikut kebaktian dan meninggalkan tas berisi bom,” katanya. Berdasarkan penyidikan kepolisian, kawanan pelaku bom adalah anak buah Ali Imron, pelaku bom Bali.

Malam itu juga, jenazah Riyanto dibawa ke rumah duka dan keesokan harinya dimakamkan di pemakaman umum Prajuritkulon, Kota Mojokerto. Riyanto, kelahiaran Kediri, 19 Oktober 1975 merupakan putra sulung dari tujuh bersaudara dari pasangan suami-istri Sukarmin dan Katinem. Semasa hidupnya, Riyanto jadi tulang punggung keluarga, pekerjaannya adalah menimbang kedelai di koperasi.

Nama Riyanto juga diabadikan sebagai nama salah satu jalan di Kota Mojokerto. Jalan Riyanto berada di Kelurahan/Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto, Jawa Timur, di bantaran sungai Brangkal. Di ujung jalan dibangun gapura cukup megah bertuliskan nama Jalan Riyanto.

Pada haul ke-17, Ketua GP Ansor Kota Mojokerto, Junaedi Malik dalam sambutannya menyatakan, kegiatan haul almarhum Riyanto adalah untuk mengenang jasa-jasa beliau. Perjuangan almarhum Riyanto semasa hidupnya sebagai anggota Banser Kota Mojokerto ini perlu kita kenang dan dilestarikan karena beliau telah berkorban untuk menunjukkan toleransi beragama di bumi NKRI.

Usai tahlil dilanjutkan kirab Panji Kehormatan dengan berjalan kaki dari Kantor PCNU menuju Lapangan Prajurit Kulon serta ziarah ke makam Riyanto. Acara itu juga diwarnai dengan pemberian tali asih kepada keluarga Riyanto di Prajurit Kulon Gang Baru.

Haul Pengabdi Toleransi tersebut juga dihadiri Wakapolres Mojokerto Kota Kompol Hadi Prayitno, anggota DPRD Kota Mojokerto, Pengurus Ansor Kota Mojokerto, Anggota Banser Mojokerto dan Sidoarjo. (dim/uyo)

Berita Terkait

Komentar